Langsung ke konten utama

Postingan

Mata

Kejam, menusuk dalam kalbu.
Mati kutu kaki terbelenggu.
Seekor elang menatap jatuh pada pupur.
Merah merekah menggalang pria jalang.

Desir dari kupu-kupu.
Menggeliat dalam pusar perut.
Panah pupil bertubi menghunus.
Ada gincu terbakar dibawah hidung.

Badung!
Siapa yang badung?!
Jelita atau jalang?
Semedilah!

(Jember, 10 September 2018)

Postingan terbaru

Tokoh

Dari buku-buku kumenemukanmu
Terselip di deretan kata indah
Mencipta getar hati dalam dada
Sungguh ini hanya fatamorgana...

Ingin kupeluk
Tapi kau sangat jauh
Melintasi samudra pun tak kan mampu
Hanya ilusi, yang nampak jelas.

Meraba wajahmu itu dusta
Tapi anganku terus melayang
Membersamai burung mengangkasa
Ia terbang bersama sayap
Aku terbang dengan angan

Burung, terkendali
Aku, jatuh hati,
Pada sosok dalam stori

(Jember 18 dzulhijjah 1439 H)
15:00

Kehilangan Yang Abadi

Aku tak pernah merasa kehilangan, sampai semua itu nyata adanya.
Perpisahan ruang dan waktu, hingga mimpi pun harus hangus.
Tak lagi temu menjadi ujung sebuah rindu.
Tapi air mata yang meluncur jatuh.

Ada kala manusia merengek pada Tuhan.
Meminta kekasih dunia tuk kembali dalam pelukan.
Namun sayang takdir itu tak bisa terhapus.
Hanya sabar dan ikhlas tulus yang menghapus.

Hanya itu kawan!
Meski perih semakin menganga.
Beriringan dengan detak waktu yang semakin cepat.
Tak akan lama kita juga kan pergi.
Meninggalkan kasih yang sendiri.

Itu bukan perpisahan sejati.
Hanya berpulang yang abadi.
Menemui Tuhan Yang Esa.
Menyerahkan tugas kita.

Kau harus tau, kawan!
Perpisahan abadi yang membunuh jiwa,
Ada ketika api dan nirwana terlihat.
Semoga kita kan bersama lagi.
Saling erat menggenggam, menyatu sanubari.
Bahagia bersama dalam nirwana.

(Jember, 4 September 2018)
08:50

Pendusta

Kucari dibawah meja, ada.
Kucari di atas awan, ada.
Kucari dalam rumah, ada.
Kucari dalam bak sampah, ada.

Buntang ada di mana-mana.
Anyir mematikan hidung.
Menjijikkan.
Tak bisa lambung berdiam, ia menggeliat akan tumpah.

Tak keruan bentuknya.
Dari mulut yang durjana.
Dia bilang A.
Nyatanya B.

Aku kalap akan paras indahya.
Pada ranum bibir mungil.
Binar mata itu!
Oh sungguh menggemaskan.

Tapi jangan tertipu daya!
Ada buntang dimana-mana..
Mencabarkan hati!!!

(Jember, 3 September 2018)
09:13

Lupa Ingat

Ingat, lupa.
Lupa, ingat.
Ingat lagi, lupa lagi.
Lupa lagi, ingat lagi.
Padahal harus ingat.
Tapi ingin lupa.

Ingat mati.
Tak ingin mati.
Lupa mati.
Pasti mati.

Ingat harus.
Lupa jangan.
Baik harus.
Jahat jangan.

Lupa lupa ingat ingat.
Ingat ingat lupa lupa.
Mati mati baik baik.
Tidak tidak jahat jahat.

(Jember, 2 September 2018)
04:55

Hai Sayangku.

Sayang, jangan anggap kita dua orang yang sama.
Aku dan dia.
Ari-ari kita berbeda.
Tali pusar berbeda.
Dan tempat netek berbeda.

Sayang, andaipun kita sama terletak pada jenis kelamin saja.
Selangkangan kita beda rupa.
Apalagi tabiat kita;
Beda.

Sayang, hati ini bukan baja.
Dia meringis mendengarmu bicara.
Sakit bukan main, cinta.
Kau tak merasa?

Hai sayangku....
Aku bukan dia
Dia bukan aku
Jangan harap aku dia
Jangan harap dia aku
Tabu.

(Jember, 18 Dzulhijjah 1439 H)
19:33

Subuh Hilang

"Bangun!" Titah ibu berkali kali.
Tangan dingin merabai.
Pundak disentuh bikin geli.
Tidak lelah tidak letih.

"Ayam berkokok" katanya lagi.
Ain menatap pancaran mentari
Burung pipit bercicit.
Sakit, birit.
Tangan halus menepik.
Ibu.

Hilang subuh, dimakan duha
Mata sayu atma durjana
Kantuk membunuh, iblis sentosa.
"Rugi nak, rugi," ucapnya

(Jember, 18 Dzulqa'dah 1439 H)